
Berapa besar uang yang harus Anda keluarkan untuk penggunaan telepon selular selama satu bulan ? Mana lebih menguntungkan, memanfaatkan fasilitas telepon seluler atau telepon rumah ? Tahukah Anda, perbandingan biaya yang kita keluarkan untuk satu percakapan atau SMS yang diberlakukan operator selular di negara kita, masih jauh lebih mahal dibandingkan negara lain.
Di Malaysia, tarif yang dikenakan untuk 1 menit panggilan hanya berkisar Rp 1493, Brunei Rp 577 per menit, Thailand Rp 424 permenit, India Rp 518 menit, Singapura Rp 924, Vietnam 819 permenit. Sementara di Indonesia, berdasarkan data yang dimiliki Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), disebutkan biaya setiap pengiriman SMS kepada sesama operator ataupun ke operator lain, konsumen dipotong pulsa sebesar Rp 250 - Rp 300.
Perlu diketahui bahwa jumlah operator selular yang beroperasi di Indonesia jumlahnya mencapai delapan operator. Yakni PT Excelcomindo Pratama (XL), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkomsel), PT Indosat, PT Hutchinson, PT Smart Telecom, PT Mobile-8, dan PT Bakrie Telecom.
BRTI pun melakukan pengkajian lebih lanjut dan menghasilkan data bahwa harga produksi untuk tarif bicara yang dikenakan operator telepon seluler rata-rata Rp 75 per 30 detik. Sementara untuk layanan pesan singkat (SMS) bisa di bawah 50 persen dari tarif bicara tersebut. ?Bahkan, untuk tarif sesama operator (on net) seharusnya gratis,? kata Committee Member BRTI, Kamilov Sagala.
Dari hasil kajian BRTI ditemukan juga, Telkomsel mematok tarif Rp 300-Rp 1.500 per 30 detik ke sesama pengguna layanan Telkomsel. Sedangkan untuk panggilan ke operator lain tarifnya Rp 1.300-Rp 1.600. Lalu untuk SMS tarifnya berkisar Rp 299-Rp 350 per SMS.
Sedangkan tarif Indosat untuk produk IM3 lebih murah dari harga yang dipatok Telkomsel. Untuk tarif bicara sesama operator per 30 detik dikenai tarif Rp 250-Rp 500. Sedangkan untuk panggilan antaroperator dikenakan tarif Rp 650 - Rp 775 per 30 detik. Sementara untuk tarif SMS antara Rp 150-Rp 500 per SMS. ?Dari pemahaman ini, sebenarnya harga-harga yang lain itu bisa jauh lebih murah,? papar Kamilov lebih lanjut.
Biaya produksi SMS pun, seharusnya tidak sebesar itu. Sebab, biaya produksi SMS semakin lama semakin turun. Menurut Kamilov, harga produksi SMS saat kajian itu dilakukan mencapai Rp 74. ?Seharusnya saat ini sudah turun 50%,? ujarnya. Kendati begitu, BRTI tak kuasa menekan operator seluler untuk menurunkan tarif.
Tingginya tarif yang ditatapkan para operator diakui oleh anggota majelis pemeriksa kasus kartel, Erwin Syahrial. Bahkan Menurut anggota BRTI Heru Sutadi, lembaganya memiliki data lengkap soal perhitungan ongkos produksi. Ongkos produksi per SMS hanya Rp 75 , "Sudah disetujui semua operator tahun lalu. Tahun ini bisa lebih murah lagi," ucap Heru.
Namun apa yang menjadi penyebab tingginya tarif, sejumlah operator seluler memiliki pandangan masing-masing. Vice President VAS and New Services PT Excelcomindo Pratama Tbk., operator XL, I Made Harta Wijaya mengatakan operator masih menggunakan pola sender keep all yang disepakati sejak bulan Februari 2000. Pola tersebut artinya yang dapat duit adalah salah satu operator pengirim saja. Umpamanya, SMS dari XL ke operator lain, maka yang dapat duit ya XL saja.
Made mengingatkan, dulu ketika telepon seluler mulai populer, tarif SMS sekitar Rp 250-Rp 350. Namun, kini seiring dengan kian banyaknya pengguna SMS, tarifnya pun makin murah. Penentuan tarif itu berkisar Rp 45 - Rp 350, tergantung layanan masing-masing operator. ?Tarif yang beragam itu, adalah tarif kompetisi dan juga strategi untuk membidik pasar berdasarkan kebutuhan operator,? ujarnya.
Juru bicara Telkom, Eddy Kurnia, menyatakan layanan SMS di Indonesia masih berbasis 'sender keep all' (SKA) sehingga operator penerima SMS tak memperoleh benefit apapun. Padahal, banjir pesan pendek membebani operator yang dituju. Untuk menghindari persaingan antaroperator, banyak promosi SMS on net dengan harga murah atau mengubah SKA menjadi pola interkoneksi.
Soal tarif versi BRTI, Eddy menilai BRTI menghitung berdasarkan perhitungan cost based, yakni SMS masih dianggap sebagai 'value added service', sehingga cost rendah. Sebab tak semua elemen jaringan yang digunakan diperhitungkan.
Juru bicara PT Indosat Adita Irawati menampik anggapan perusahaannya memanfaatkan keleluasaan dari pemerintah dengan mengenakan tarif tinggi. Menurut dia, sangat sulit menurunkan harga karena revenue hanya didapat dari pengiriman SMS. Sedangkan operator penerima tak memperoleh apa-apa. Berbeda dengan tarif interkoneksi suara, yang operator pengirim dan penerima memperoleh revenue.
Adalah hak operator untuk membela diri dengan metode dan keyakinannya. Tapi kewenangan untuk menyatakan benar atau salah, mutlak berada di tangan pemerintah sebagai penyelenggara negara
